Motorku ini sudah hampir setahun ini kupegang. Honda Fit-X warna hitam nopol N6494CI ini masih harus kucicil dua tahun lagi. di slebor belakang kutempeli stiker warna kuning bertuliskan " jangan ditabrak, belum lunas ".
tapi ternyata tulisan stiker itu nggak ada gunanya kecuali jadi bahan ejekan tukang parkir. Sebulan yang lalu aku nyungsep di aspal karena diserempet onta gila.
Tulisan
ini cukup panjang sih, sebagai pelampiasan selama beberapa hari tangan
nggak bisa dipake ngetik. Semoga tidak bosan selama membacanya.
“Owalah mas,kok sampeyan jadi begini..”
Itu
yang diucapkan Yuni saat bertemu di parkiran empat hari setelah
kecelakaan yang kualami. Aku tersenyum,membuat wanita itu mengernyitkan
alis menahan ngeri. Bengkak di bibir dan
lima
gigiku yang sudah tidak ada ditempatnya memperkaya display baru wajahku
(dipertegas dengan senyum itu), selain tiga perban yang menutup luka di
jidat, pangkal hidung dan dagu. Jelas sudah wajah itu tidak enak
dipandang terutama oleh orang yang mengenalnya.
“Santai saja, nduk.Yang penting
kan
masih diberi hidup,” jawabku.Wanita lawan bicaraku ini adalah pelacur
yang biasa mangkal disekitar RS Lavalette dan SMP 5 (yang pernah
kuceritakan dalam blogku sebelumnya).
“Kudengar kabar sampean ditabrak orang dari cak Brudin dua hari lalu. Maunya pingin menjenguk sampean tapi sungkan.”
“Sungkan sama siapa.”
“Ya sama istri sampeyan.”
“Halah, dulu
kan
kalian sudah kenalan. Buat apa sungkan.”
“Juga nggak enak sama orang kampung. Pasti ada yang tahu aku ini balon (sebutan untuk pelacur), Lha wong tempat mangkalku nggak jauh dari kampung sampeyan. Ntar sampeyan jadi bahan omongan mereka.”
“Nduk,”
rada sulit aku tersenyum dengan bibir yang bengkak, ”kalau aku ngerti
cara menjaga gengsi yang baik, nggak mungkin aku ada disini sekarang,
ngobrol enak dengan teman minum kopiku.” Ucapanku belum mampu
membuatnya lebih santai. Dipandanginya wajah penuh perban ini dari atas
kebawah, seakan ingin memastikan anggota tubuhku lainnya masih
utuh.”Sudah mas, bibir masih bengkak gitu jangan dipaksa banyak gerak.”
“Oke, ayo ngobrol lewat SMS.”
“Halah kumat!”
Tiga
hari sebelumnya, tepatnya tanggal 12 juli, aku mengajak istri dan
anakku jalan-jalan ke kampusku dulu. Rencananya kami mau makan siang di
kantin tempat kami pertama kali bertemu. Hari itu istriku berulang
tahun. Meskipun saat ini masih terbilang masa susah, kami masih ingin
menciptakan moment istimewa meski tidak harus mewah.
Dalam
perjalanan menuju ke kampus itulah musibah itu terjadi. Di jalan raya
depan stadion gajayana yang lagi padat-padatnya(waktu itu jam 13 20)
sebuah pengendara sepeda motor berkecepatan tinggi mendahului dari sisi
kanan dengan sangat mepetnya. Pengendara itu mengangkut sebuah kursi
tamu yang diikatkan di jok belakangnya. Kejadiannya begitu cepat saat
kursi itu menyenggol setir motorku dengan kerasnya. Kami pun terhempas
ke aspal. Aku tidak punya cukup waktu untuk melindungi kepalaku.Wajahku
beradu dengan aspal membuat jidat dan dagu robek, gigi rompal tiga
biji, dua lainnya goyang.bingkai kacamata patah meninggalkan robekan di
pangkal hidung. Telapak tangan kanan mengelupas di dua tempat.
Pergelangan tangan kanan dan jari jemarinya sulit digerakkan. Lutut
kiri pun tidak luput dari cidera.
Kudengar
jerit kesakitan anakku, jeritan yang mampu membuat tubuh remuk ini
serta merta berdiri. Edwin, anakku yang baru berumur tujuh tahun-yang
untungnya selama diatas motor duduk ditengah, terlihat tengkurap di
aspal tidak jauh dari ibunya. Menangisi telapak dan beberapa jari
tangan kirinya yang terkelupas. Orang-orang pun berkerumun menolong
istri dan anakku. Aku sendiri sibuk menyibak kerumunan untuk mencari
penabrak kami.
Penabrak
kami ternyata seorang pria keturunan arab berusia enampuluhan. Seorang
tukang parkir setempat berhasil menghentikannya dan merebut kunci
motornya. Didepan orang-orang dia ngotot tidak bersalah bahkan balik
menuding bahwa kamilah yang menyerempetnya. Alibi tidak logis itu
justru membuat orang-orang habis kesabaran. Istriku sangat emosional.
Sambil memangku Edwin yang tak henti-hentinya menangis, istriku
mengumpati habis pria tua itu.”Sudahlah jeng,
tenanglah. Orang-orang disini sudah pada membela kita,” kucoba
kutenangkan istriku sambil kuawasi orang-orang yang gelagatnya sudah
mau main kasar pada pria itu. Tapi inilah yang aku nggak habis
mengerti.Pria tua itu (belakangan diketahui bernama Hasan Ahmad
Assegaf, tinggal di jalan Arif Rahman Hakim) meskipun dalam situasi
yang rawan seperti itu masih gigih mempertahankan pendapatnya bahwa dia
tidak bersalah,bahwa kamilah yang menabrak motornya. Orang-orang yang
melihat sendiri kejadiannya mulai naik pitam. Didukung dengan
pemandangan anakku yang menangisi lukanya,istriku yang histeris,dan
wajahku yang penuh darah.
Kurangkul
pria itu menjauhi motornya sambil berbisik,”sudahlah pak, jangan
mempersulit diri sampeyan sendiri.” Kuberi tanda orang-orang untuk
mengurungkan aksinya. Tapi kata-kataku tadi percuma saja. Sekali ngotot
tetap ngotot pendeknya.
Untung polisi kebetulan lewat. Kami segera diantar ke UGD sedangkan kedua kendaraan diangkut ke mapolresta.
Singkat
cerita kami dirawat di UGD dan untungnya tidak perlu menginap. Edwin
menjalani perawatan paling lama karena rewel. Baginya luka yang
dideritanya ini adalah yang paling parah dalam sejarah hidupnya. Kami
hampir pulang saat pak Hasan,orang yang menabrak kami tadi datang
ditemani anak lelakinya yang kutaksir berumur duapuluhan. Berbeda
dengan bapaknya, Hamid(nama si anak itu) terlihat lebih necis. Ternyata
dia pemilik salah satu konter HP di
malang
plasa lantai tiga.
Mewakili
sang bapak, Hamid menjanjikan segalanya beres asalkan aku mau diajak
damai. Tawaran tersebut kusetujui, meskipun agak sumpek juga melihat
gaya
bicara anak muda itu yang terkesan arogan.
Tapi
Hamid ini memang kelihatan cukup mapan dibanding ayahnya yang cuma
jualan mebel. Setidaknya itu terlihat dari mobil mahalnya yang dipakai
untuk mengantarku ke mapolresta. Setibanya disana kami menandatangani
surat
pernyataan damai yang isinya pihak pak Hasan sanggup membantu biaya
pengobatan hingga tuntas serta perbaikan atas kerusakan yang
diakibatkan kecelakaan tersebut. Dengan ditandatanganinya
surat
tersebut maka motor pak Hasan bisa keluar dari mapolresta.
Namun
rupanya janji itu tidak terpenuhi. Selang beberapa hari kutelepon
mereka untuk menanyakan tentang penebusan resep yang nilainya dua kali
lipat biaya UGD serta biaya pengadaan kacamata dan pencabutan dua gigi
yang rusak (sekaligus kutanyakan mengenai pemasangan gigi baru,yang
dengar-dengar cukup mahal untuk ukuran kantongku). Kujelaskan pula pada
mereka bahwa motorku tidak mengalami kerusakan berarti sehingga biaya
perbaikan biarlah kutanggung sendiri. Namun jawaban mereka cukup
mencengangkan. Menurutnya cukup sudah mereka mengganti biaya UGD
kemarin dan memintaku untuk memahami bahwa ini musibah yang tidak ada
seorangpun yang menginginkannya dengan sengaja. Bahkan pak Hasan
memberi sedikit ‘dakwah’ padaku dengan mengambil sekelumit ayat Al
Quran yang intinya kita harus bisa menerima cobaan dan musibah dengan
lapang dada.
Benar-benar melukai akal sehat.
Setelah
memberi kesempatan dia menyelesaikan dakwahnya, aku menutup pembicaraan
telepon kami dengan sebuah pesan,”saya tidak mengajak bicara anda
dengan dasar logika apapun kecuali dengan hati,
pak. Sebaiknya sebagai pria terhormat anda menepati janji yang anda
tandatangani sendiri didepan polisi. Dan berapapun yang anda berikan
akan kami terima asalkan sama-sama ikhlas. Saya bisa saja mencabut
pernyataan damai dan menempuh jalur hukum untuk mendapat pembiayaan
yang pantas dan tuntas, namun jika uang dari anda tidak disertai
keikhlasan maka tidak akan menjadi barokah bagi saya.”
Beberapa
menit kemudian pak Hasan sudah tiba di rumahku dan memberi uang seratus
ribu rupiah. Kutatap matanya dalam-dalam, “saya terima bantuan dari
anda dengan ikhlas. Dari pihak kami menganggap urusan ini telah
selesai.” Dari tempatnya duduk istriku memandangku dengan menyimpan
perasaan tidak terima dibenaknya. Tapi dia kenal betul suaminya,
pantang mengubah keputusan dan tidak suka berdebat didepan orang. Maka
dia pun hanya bisa diam.
Beberapa
kawan yang datang menjenguk rata-rata menyayangkan keputusanku. Masuk
akal jika sikap yang kuambil didasari karena penabrakku adalah orang
yang kurang mampu dan menyesali tindakannya. Sedangkan sosok Hasan
adalah kebalikan dari kedua hal tadi. Seorang kawan bahkan ngotot
menawarkan sebuah cara ‘kuno’.
“Kita targetkan anaknya yang bernama Hamid itu saja. Sampeyan pilih mana,mobil bagusnya yang rusak atau tempat usahanya yang morat-marit.
Dua-duanya pun boleh. Aku ada sedikitnya tiga puluh orang yang siap
jalan, apalagi kalau tahu yang kesusahan itu sampeyan.” Sehari
sebelumnya seorang kawan aktivis dari distrik sukun menawarkan hal
serupa. Sebagai penggalang
massa
wilayah sukun untuk kesuksesan salah satu peserta pilkada, tidak sulit
baginya saat itu untuk mengerahkan segelintir orang agar berbuat ‘lucu’.
“Sadar
nggak sih kalau sampeyan semua itu lucu banget. Kenapa harus bawa-bawa
orang banyak untuk bikin onar cuma karena masalah beginian. Padahal
Cuma gigiku yang hilang. Coba kalau lainnya, taruhlah kaki atau mata.
Apa sampeyan mau bawa seluruh orang kelurahan sukun dan klaseman untuk khilaf
berjamaah? Nggak cukup ruang tahanan di mapolres buat nampung kalian. Salah-salah sebagian dititipkan di seberang polres (seberang mapolresta adalah RSUD Saiful Anwar).” Dan akhirnya kami pun ngakak berbarengan. Dan lagi-lagi
bibirku perih dipakai saat ketawa.
Kembali
ke tempat aku ngobrol dengan Yuni. Masih saja dia menampakkan
kejengkelannya. “Ya begitu itu orang arab mas, salah atau benar tetep
ngotot saja. Pelit jadi wajib hukumnya, nggak lihat-lihat dulu ini
urusan nyawa apa urusan upil. Tanya saja para tukang becak yang mangkal
di sekitar kauman. Mereka paling males kalau calon penumpangnya itu
orang arab. Maunya jauh dekat dua ribu perak. Disamakan dengan mikrolet
saja. Itu becak dipancal pake betis, bukannya pake diesel! Pakai otak
sedikit saja apa susahnya sih?” Tawaku semakin menjadi meski mulut
masih terasa perih. Kupikir istriku sudah cukup ‘gila’ saat menyumpahi
pak Hasan di lokasi kecelakaan. Ternyata belum bisa mengalahkan Yuni
dalam hal ini. Jadi ingat kata almarhum bapakku, bahwa wanita yang
sedang mengomel ibarat lokomotif yang meluncur. Menyelanya berarti
bunuh diri.
“Lagian sampeyan juga keliru mas. Kok gampang banget dibujuk pake trik kacangan
seperti itu. Apa sampeyan sama sekali nggak curiga bakal dicurangi? Aku
saja bisa lebih waspada daripada sampeyan. Setiap ada calon pelanggan
yang suka sesumbar biasanya kutolak.”
“Lho, kok bisa gitu ?”
“Iya,
mas. Kalau ada yang sampai bilang, sudah deh pasti kubayar. Maunya
berapa sih.., biasanya orang yang sesumbar macam gini ujung-ujungnya
ruwet,mas. Habis meniduriku terus kabur nggak mbayar babar blas! Nggak sekali dua kali kejadian macam gitu,mas. Makanya aku nggak ngeh sama calon konsumen bermulut besar!”
“Tapi orang-orang yang kutemui selama ini nggak seperti itu, nduk. Rata-rata mereka kalau sumbar itu ya sumbut (sumbut:konsekuen,sesuai kapasitas).”
“Nah, ketahuan lugunya
kan
?
Makanya jangan cuma mengamati orang dari kalangan sampeyan saja mas,
dunia ini luas dan ternyata aku lebih banyak kenal tipe orang daripada
sampeyan.”
Seketika
itu juga aku merasa digemplang. Pelacur ini merasa lebih paham manusia
daripada aku dan nalar logika tidak sanggup membantah pernyataan itu.
”Boleh lah, nduk,” aku Cuma bisa tersenyum,”kali ini kamu benar.”
Pagi
kemarin aku sudah mulai mengajar lagi di kelas seni SD Sabilillah.
Tampang baruku menjadi tontonan lucu sekaligus menuai iba diantara
guru-guru disana. Selama didalam kelas kembali ingat tentang diskusi
antara aku dan istriku tentang celetukan salah seorang saudara. Menurut
saudara kami itu, kecelakaan ini adalah cara Tuhan memperingatkan
umatnya atas tugas atau kewajiban sebagai umat kepada Tuhannya yang
belum dilaksanakan. Kujawab padanya bahwa aku punya interprestasi
sendiri atas musibah kemarin. Jika setiap musibah melulu dianggap
peringatan atau katakanlah hukuman Tuhan, Lantas apakah kita musti
yakin bahwa seluruh penduduk aceh itu pada nggak bener karena tsunami
ditakdirkan melanda daratan itu? Dan apakah di jawa timur khususnya
kota
malang
dipenuhi orang suci sehingga sampai detik ini tsunami atau bencana
lainnya belum juga ditakdirkan terjadi disini? Tomy Suharto belum
pernah keserempet motor sampai gigi rompal. Apa karena dia pelaku
syariat islam yang sempurna sehingga tidak perlu mendapat SP dari-Nya?
Kepada
istriku kukatakan, musibah itu memberi pelajaran banyak kepada kami.
Tentang bagaimana harus tetap tangguh disaat celaka dan tetap berpikir
sehat dikala panik. Boleh saja jengkel sama wak Hasan
itu, tapi mustinya bersyukur juga. Orang sebrengsek itu hanya mampir
sekejap dalam kehidupan kami. Bayangkan orang macam itu ditakdirkan
menjadi bagian dari keluarga kita, atau terdapat pada jajaran kawan dan
sahabat. Hidup yang cuma sekali ini bisa jadi sangat menyiksa. Jadi
mari buang jauh-jauh onta itu dalam ingatan kita, dan kita lanjutkan menikmati hidup seperti kemarin-kemarin.
Kembali
ke ruang kelas seni yang kupegang. Anak-anak sedang asyik menggambari
kertasnya. Aku keluar kelas untuk merokok saat empat gadis cilik
mendatangiku. “Pak Aji, mau tanya boleh?”
“Boleh saja. Kenapa, sayang?” awalnya kupikir mereka akan bertanya seputar tugas menggambar mereka.
“Tapi
janji ya nggak boleh marah,” ucap gadis yang paling berani ini mewakili
kawan-kawannya. Kulihat para siswi kelas dua SD itu saling beradu
sikut. Perasaanku jadi nggak enak.
“Baik, bapak janji.”
“Anu,..ada
apa dengan giginya pak Aji?” dua bocah yang sedari tadi berada
dibelakang mulai berlindung dipunggung kawannya. Sudah kuduga
pertanyaan ini bakal muncul dari bibir bocah-bocah polos itu.
“Kalian
benar-benar ingin tahu?” mereka berempat serentak mengangguk.”Baiklah,”
aku menarik nafas panjang.”Pak Aji baru saja mengikuti kegiatan
sosial.”
Sungguh ide itu muncul begitu saja membuat mereka semakin penasaran,”kegiatan sosial apa, pak?”
“Mmm.. pernah dengar tentang donor gigi?”
Dan mereka pun terperangah karena takjub.