From Seksi Lemak With Love

December 26th, 2008 by ajiprasetyo

Kudengar cerita ini dari mas A, personel Reskrim yang mentraktirku minggu lalu. Sebelum dipindah ke Malang dia dulu bertugas di Seksi Lima daerah Kapasan Surabaya, atau lebih populer disebut Seksi lemak sesuai dengan aksen madura dalam menyebut angka itu. Maklum, Kapasan dan sekitarnya didominasi oleh masyarakat keturunan madura.

Seksi Lemak sangat ditakuti para residivis karena tersohor kekejamannya. Prosedur interogasi dipenuhi dengan siksaan fisik yang nggak ukuran. Sudah deh, lebih baik langsung dijebloskan penjara biarpun tanpa diadili daripada musti nginap dulu di Seksi Lemak.

“Neraka Jahanam bagi para kriminil“ ini punya ikon yang sangat ngetop dikalangan polisi dan penjahat, yaitu pompa air kuno yang sudah terpasang sejak bangunan itu berdiri dan dilestarikan sampai sekarang. Lho?

Pernah terjadi, seorang penjahat yang tertangkap kemudian diinterogasi dengan sangat keras hingga kelonjotan nyaris mati. Beberapa tahanan lain disuruh menggotongnya ke pancuran air. Begitu tiba disana si orang yang sudah remuk redam ini diguyuri air yang berasal dari pompa air kuno tadi. Ajaib, pesakitan itu serta-merta sadar untuk kemudian kembali menjalani kembali siksaan yang tadi sempat terhenti. Entah sampai kapan siksaan itu harus dia jalani. Ada yang tahu? Yang jelas aku punya imajinasi sendiri.

Misalkan seorang pencuri ditanya berapa kali dia pernah mencuri. Meski kenyataannya dia sudah delapan kali mencuri, dia pasti akan menjawab baru pertama kali biar dikasihani. Pasti si Interogator tidak mudah percaya dan menyiksanya sambil kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Siksaan baru berhenti setelah pencuri itu mengaku pernah beraksi sebanyak tigapuluh kali, umpama.

Coba seandainya kemudian dia ditanya tentang berapa jumlah komplotannya. Seandainya dia menjawab tiga orang, pasti tidak dipercaya dan lagi-lagi ditaboki pakai kursi lipat. Maka sebaiknya dia sebut saja tujuh orang biar terdengar logis, meskipun kenyataannya karena kurang pandai bergaul akhirnya sebagai maling dia terpaksa ber-solo karier. Jika kemudian dia dipaksa menyebut identitas tujuh orang partner fiktif tadi, tinggal sebut nama tetangga terdekat satu persatu kan beres. Meskipun mereka bakal membantah tuduhan itu karena memang demi setan tidak tahu apa-apa. Tapi di tangan para interogator profesional ini, siapa yang cukup kuat untuk tidak mengaku? Meskipun disuruh mengaku sebagai ayam petelur?

Maaf jika imajinasi barusan terlalu berlebihan. Yang jelas intinya, lakukan apapun asal bisa segera bebas dari Seksi Lemak.

Begitulah kabar tentang kehebatan air dari pompa usang tersebut. Bahkan ada yang menambahkan, luka tembak di kaki seorang buronan bisa mengering dalam sehari karena dibasuh air itu. Semoga saja setelah lukanya mengering kakinya tidak ditembak lagi.

Tidak bisa dibayangkan jika fenomena Seksi Lemak ini diekspos oleh pers sebagai berita supranatural yang lantas dikenal oleh masyarakat luas. Jangan-jangan banyak yang berbondong-bondong datang kesana untuk minta kesembuhan maupun ngalap berkah. Mulai dari penderita hernia, usus buntu, disfungsi ereksi, keputihan, gangguan pendengaran, raja singa, gagal ginjal, jantung koroner, HIV, bahkan idiot kronis, semua rela antre demi air mujarab itu.

Kemudian, mengingat slogannya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat, para petugas disana melayani para pasien dengan sabar. Semua pasien berhasil sembuh dari sakitnya dan keluar dari kantor polisi dengan hati gembira. Sebuah pemandangan yang nyaris mustahil kita dapati selama ini, yaitu orang keluar dari kantor polisi dengan senyum merekah.

Indah sekali bukan?

Hari Ini Kulalui Dengan Sama Sekali Tidak Lucu

December 17th, 2008 by ajiprasetyo

Aku sedang berboncengan dengan istriku melintasi rute pinggiran kota.

Istriku : Mas, lihat papan nama koperasi di kiri jalan barusan?

Aku : Nggak. Kenapa?

Istriku : Disitu tertulis “Koperasi Simpan Pinjam Makmur Sejahtera“. Kok seperti nama partai saja ya?

Aku : Nggak. Yang bener itu ya, nama partai sekarang kebanyakan seperti nama koperasi.

Setiba di kampus UM kami berhenti sebentar untuk sebuah urusan kecil. Kuparkirkan motorku di sebelah sebuah motor Thunder gagah hitam mengkilap, membuat motor bebekku(seandainya dia punya hati) seketika minder dengan penampilan dirinya. Di bodi samping motor thunder itu terdapat stiker besar dengan font latin romantik bertuliskan “La Bella Cavatina“. Seingatku, La Bella itu salah satu merk senar gitar sedangkan Cavatina kalau tidak salah judul nomor klasik yang sangat melankolis. Pastilah pengendaranya seorang pemusik, mungkin tepatnya gitaris klasik. Tapi tulisan di bodi motor itu membuat si Thunder tidak lagi tampak gagah dan garang. Melow banget, gitu loh.

Sedangkan di bemper belakang motor bebekku terpasang stiker warna kuning bertuliskan “Warning! Jangan ditabrak, belum lunas.“ Dan kenyataannya motorku ditabrak juga dari dari arah belakang, terhitung 28 hari setelah stiker itu dipasang. Pendeknya, tersebutlah dua motor diparkir berdampingan. Yang satu sentimentil sedangkan satunya lagi kurang slametan.

Seseorang yang harus kutemui hari itu adalah seorang pria serem berotot tampilan ala preman yang merupakan tokoh pemuda di wilayah belakang pasar. Lengannya penuh tato dan wajah penuh tindik. Sore itu di rumahnya, kebetulan dia lagi nyantai bertelanjang dada sambil mencuci mobilnya. Sebuah tato dipunggungnya cukup menyita perhatianku. Tato yang tidak pernah kulihat karena setiap di muka umum bagian punggungnya kan selalu tertutup. Tato itu bergambar wajah wanita dengan model rambut ala Dina Mariana(jadul banget lah pendeknya) dan bertuliskan “di hatiku selamanya“.

Sudahlah Aji,“ gumamku pada diri sendiri,“nggak cuma kamu, preman pun berhak patah hati..“

Selama tiga jam lebih aku nongkrong di rumahnya. Bahkan dia sempat memamerkan beberapa pusaka kuno koleksinya. Salah satu kerisnya, saat pertama kali ditemukan oleh empu yang cukup kondang, konon masih berwujud seekor ular. Wajahku berusaha tampak tenang. Kuceritakan juga tentang benda yang kutunggangi menuju rumahnya hari itu, dulunya adalah seekor kuda arab. Tapi karena sebaiknya dilengkapi nomor polisi dan STNK maka kusuruh berubah jadi Honda Fit X.

Kalau nggak karena kenal lama sudah tak jotos kamu. Aku serius ini,” sungut si preman.

Kenapa jadi sensitif begitu ya, bukankah sekarang lagi tren yang begituan. Ada yang mengaku titisannya Bung Karno, beberapa orang pernah mengaku sebagai Supriyadi, sempat heboh ada orang ngaku dapat wahyu kenabian, bahkan ada seorang ahli merangkai bunga kering yang banting setir menjadi Jibril.

Dan sekarang, aku dipaksa menyepakati bahwa ada seekor ular yang mencoba karir baru sebagai sebilah keris. Andaikan aku punya cukup keberanian, akan kutanyakan pada si preman apakah awal pertemuan dengan istrinya adalah saat sang istri memberanikan diri mencium seekor katak yang lantas menjelma menjadi…

..Sudahlah, aku nggak mau bonyok.

(NB:sorry aku jarang posting blogdan upload gambar di FS. akhir2 ini seringnya di www.klewang.multiply.com silakan mampir dong deh)

Bismillah, Sembuh!

August 28th, 2008 by ajiprasetyo

Semasa masih SD ada tontonan di lapangan dekat kampungku yang
sanggup merontokkan hasrat bocah-bocah sepantaranku untuk bermain bola atau
layangan. Tontonan itu berupa “klinik penyembuhan alternatif supranatural oleh
mbah J” ( maaf harus pakai inisial, kuatirnya keturunannya ada yang baca
tulisan ini dan merasa nggak enak).

 Dengan
fasilitas tenda parasut dan seperangkat pengeras suara, klinik ini selalu dipadati
ratusan penonton. Maklum, selain pandai berorasi dan atraksi sulap, mbah J
selalu mempertontonkan cara dia menyembuhkan pasien-pasiennya.

 Mbah J
berperawakan tinggi besar dan berperut gendut. Kumis dan jenggotnya yang
beruban menjuntai panjang. Selalu tampil dengan busana seperti layaknya seorang
warok yaitu serba hitam lengkap dengan kain udeng melilit kepalanya Sandal
kulitnya yang tebal, nah ini dia yang istimewa. Dia selalu menggunakan sandal
kulitnya sebagai media penyembuhan. Sungguh sakti benar, hanya dengan beberapa
pukulan sandal pada bagian tubuh pasien yang sakit, sim salabim si pasien pulih
saat itu juga.

 Selalu ada
saja orang datang minta kesembuhan padanya. Suatu kali muncul dua remaja
membopong seorang pria tua yang mengaku lumpuh sejak sepuluh tahun lalu.
Diiringi pekikan lantang, mbah J melayangkan tiga tamparan sandal kulitnya di
betis pria tua itu. Ajaib, si pasien perlahan sanggup berdiri dan akhirnya pulang
tanpa perlu dibopong.

 Pernah juga
kulihat seseorang mengeluh kehilangan penglihatan alias buta datang padanya.
Didepan ratusan penonton mbah J menabok jidat orang itu dua kali pakai
sandalnya dan seketika orang itu dapat melihat kembali. Sebelum pulang dia
mencium tangan mbah J sambil menangis saat menghaturkan terima kasih.

 

Ada

satu diantara sekian
banyak pasien mbah J yang sangat membuatku terkesan sampai sekarang. Seorang
pria yang kutaksir berumur limapuluhan datang diantar oleh istrinya, pipinya
terlihat bengkak, mungkin ada masalah dengan gusinya. Seperti biasa mbah J
menyempatkan untuk “mewawancarai” calon pasien didepan mikrofon, menanyakan
sakit apa dia dan sudah berapa lama dideritanya.

 “Kuberitahu
sampeyan, bahwa penyakit sampeyan ini dibikin orang,” begitulah mbah J
menjelaskan. Cukup aneh sih, seingatku hampir semua pasiennya mendapat diagnosa
seperti itu. Dan selalu saja tahap berikutnya si pasien disuruh memilih,
diberitahu siapa pelakunya tapi tidak disembuhkan atau sebaliknya, disembuhkan
tapi tidak diberitahu siapa pelakunya.

 Tentu saja
semua pasiennya memilih opsi yang kedua. Tidak terkecuali pria berpipi bengkak
itu. Maka bersiaplah mbah J melakukan pengobatan. Dilepasnya salah satu sandal
kulitnya. Ratusan penonton menahan nafas.

 “Bismillah,
sembuh!” pekik mbah J sambil melayangkan sandal tebal itu dua kali ke pipi
pasien yang bengkak. Sesaat kemudian mbah J bertanya,”bagaimana, sudah sembuh?”
Pria itu terlihat menahan sakit saat berucap lirih,”belum,mbah..”

 “Bismillah,
sembuh!” kembali mbah J menampar pria

malang

itu dengan sandalnya. “Bagaimana sekarang, sudah sembuh belum?” meskipun jarak
cukup jauh, aku bisa melihat ekspresi muka pria itu setengah menangis. Suaranya
bergetar,”masih belum, mbah..”

 “Yang ini
memang bukan penyakit sembarangan. Tunggu sebentar,” mbah J nampak memusatkan
pikiran untuk kemudian kembali mengayunkan sandal kulitnya,”bismillahirohmanirrohim,
sembuh!” seluruh penonton terkesiap.

 “Bagaimana?”
mbah J memandangi pasiennya yang menunduk dengan muka yang merah seperti semangka
matang. Selang berapa detik pria

malang

itu menjawab dengan suara yang sangat memilukan,”..sudah mbah, sudah sembuh..!”

 Sejak saat itu
aku bersumpah tidak mau melihat tontonan itu lagi.

 

Malang

,
29 agustus 2008

 

nb: tulisan ini tidak bermaksud
menyindir pihak manapun, terlebih lagi pihak kepolisian terutama polres jombang
apalagi polsek perak, bukan karena intimidasi fisik yang mereka lakukan yang mengakibatkan
dipenjaranya orang yang tak bersalah atas kasus pembunuhan alm Asrori..

Disapa Malaikat Maut

August 24th, 2008 by ajiprasetyo

Istilah itu tadi sekadar menggambarkan suasana saat kita
berhadapan dengan kondisi genting dimana nyawa kita bisa saja melayang dengan
mudah. Namun sang malaikat maut belum juga menunaikan tugasnya, hanya lewat
menyapa.

 Cobalah
hitung berapa kali kejadian semacam itu kita alami. Pastilah masing-masing
diantara kita punya hitungan yang beragam. Aku sendiri akan mencoba mengingat
kapan saja hal itu kualami sepanjang lebih dari tigapuluh tahun umurku berjalan. Bisa jadi tidak semuanya berhasil
kuingat.

 Saat baru
berusia beberapa minggu, menurut cerita para orang tua, aku mengalami sakit
batuk yang aneh. Saking parahnya, bayi Aji ini dinyatakan telah mati karena
tidak bernafas dan tidak ada detak jantung. Diiringi tangis seisi rumah, kakekku
bergegas ke pasar membeli kain kafan. Sepulang beliau dari pasar, si mayat bayi
terbatuk dan menangis keras. Aneh, ya? Dan jangan bertanya tentang pengalaman
spiritual apa yang terjadi dibalik itu. Mana mungkin bayi disuruh ingat.

 Waktu masih
duduk di bangku kelas 2 SMP, adik bungsuku yang kala itu masih berusia tujuh
tahun tercebur kedalam kolam sedalam tiga meter. Tanpa berpikir aku pun
menceburkan diri untuk menolongnya. Sedangkan aku sekalipun tidak pernah
belajar tentang teori menolong orang tenggelam. Boro-boro teori menolong, kemampuan berenangku saja saat itu
pas-pasan, sekadar bisa bikin badan mengambang ala kadarnya. Dan benar saja,
aku kewalahan menghadapi rontaan tak menentu dari adikku. Nyaris saja kami mati
tenggelam berdua seandainya tidak ada orang yang membantu dengan menjulurkan
galah kearah kami. Ditepian kolam kami berdua menangis. Aku tak akan bisa
memaafkan diriku sendiri jika saat itu adikku tak tertolong.

 Setahun
setelah kejadian itu, sebuah musibah konyol kualami. Hanya karena ingin nonton
gratis konser Anggun C. Sasmi dan Inka Christie, aku dan kawan segerombolanku
rela memanjat dinding stadion yang tingginya amit-amit. Sebenarnya aku sudah
dapat uang dari ibu buat beli tiket. Tapi hanya sebutan pengecut yang akan
kudapat jika ajakan kawan ini kutolak. Kami sepakat memanjat dinding selatan
stadion. Kutaksir ada ratusan orang melakukan hal serupa. Aku yang takut
ketinggian tidak bisa menolak gengsi adu adrenalin yang ditawarkan keadaan.
Dengan berbekal jangkar berlilit tambang, kukerahkan semua tenaga untuk mendaki
dinding beton hingga berhasil mencapai puncak-yang kutaksir lebih lah dari tiga
setengah meter tingginya. Seluruh pemanjat sedang bersiap untuk turun ketika
satu regu polisi bersenjatakan pentungan rotan menyerbu dinding. Panik,
orang-orang pun berlompatan menyelamatkan diri. Aksi saling sikut dan dorong
diatas dinding menyebabkan tubuhku terlempar dengan deras kebawah. Dan anehnya
aku masih bisa cepat bangkit dan menyelamatkan diri dari sabetan rotan beberapa
petugas. Sembari menghambur kearah kerumunan penonton, sempat kulihat beberapa
orang yang jatuh dari atas dinding bersamaku tidak bergerak dari terkaparnya.
Entah apa yang terjadi pada mereka, mati atau semaput, dan entah apa yang bisa
membuatku selamat setelah terhempas dari tempat setinggi itu dengan hanya
menderita sedikit nyeri di leher dan punggung.

 Pertengahan
tahun 1997, aku ikut dalam rombongan anak-anak MPA ke pantai Sendang Biru.
Mereka mengemban misi investigasi atas rusaknya cagar alam pulau Sempu akibat
digunakan untuk latihan militer. Saat menyeberang menuju Sempu, kira-kira satu
kilometer dari bibir pantai, mendadak cuaca yang buruk dan ombak yang mulai
galak membuat perahu yang kami tumpangi terbalik. Sangat banyak peluang untuk
nyawa ini hilang dengan mudah. Entah karena terseret ombak ke laut lepas atau
kehabisan tenaga saat berenang ke pantai. Perahu bermotor milik nelayan yang
kebetulan lewat akhirnya menyelamatkan kami.

 Tahun 2006,
aku tergabung dalam band country yang dapat jatah mengiringi Tantowi Yahya
konser di ambon. Dalam penerbangan surabaya-ambon, cuaca sangat buruk. Seisi
pesawat serasa dikocok-kocok badai. Kilat menyambar sangat dekat dengan sayap
kanan pesawat. Seketika itu juga seluruh penumpang ingat Tuhannya
masing-masing.

 Begitulah,
beberapa kali nyawa hampir melayang. Rasa takutnya sulit digambarkan. Dan
kurasa itu sangat manusiawi. Entah apa yang membuat kematian terasa menakutkan.
Apakah sekadar rasa sakit yang mungkin akan dirasakan sebagai proses melewati
gerbang ajal atau ketakutan menghadapi pengadilan Tuhan setelah mati, khusus
bagi yang meyakininya.

 Pernah
kudengar tentang tiga serdadu jepang yang sangat legendaris semasa kemenangan
jepang atas rusia(1905). Dengan sangat nekad mereka bergotong-royong memanggul
sebatang peluru torpedo lantas kemudian dihantamkan kepintu benteng pasukan
rusia yang sangat sulit ditembus. Belum lagi tingkah polah generasi jepang
berikutnya di PD II dengan kamikaze-nya. Pastiah mereka sadar akan ada rasa
sakit yang akan mereka rasakan walau mungkin sekejap. Tapi toh mereka lakukan
juga. Seakan-akan di jepang sono, mati
untuk menegakkan harga diri bukanlah hal yang aneh-meskipun dengan cara yang
amat sakit(lihat cara orang jepang ber-harakiri/seppuku; menusukkan pedang ke
perut, kemudian ditarik menyamping untuk membuat robekan fatal pada dinding
perut.. Menjelang akan roboh barulah si pendamping diijinkan untuk memenggal
kepalanya. Kurang sakit gimana lagi itu?).

Sudah jadi budaya, kali ya. Bahkan
tiga serdadu penenteng torpedo tadi dibikinkan monumen dan konon figurnya biasa
jadi gambar hiasan pada piring porselen antik. Jika pengalaman “hampir mati”
yang kualami dulu-dulu kusebut sebagai “disapa malaikat maut”, maka yang
dilakukan para serdadu ini justru ”menyapa malaikat maut (dan nunut boncengan)”.

 Tulisan
iseng ini kudedikasikan untuk Amrozi cs yang konon sedang panik menghadapi
hukuman mati. Eksekusi tembak dianggapnya terlalu menyiksa, mintanya sih
dieksekusi pancung karena lebih islami(padahal disini tidak ada algojo pancung
yang berpengalaman memancung manusia karena memang nggak lazim. Kalau sabetan
pedangnya meleset dikit saja bukankah lebih tersiksa lagi mereka..). Jika tidak
diijinkan dipancung, mereka minta eksekusi suntik atau listrik. Andai saja
mereka tahu, Di amerika saja eksekusi listrik diprotes banyak pihak karena
dianggap sangat kejam. Setelah kulihat rekamannya, kupikir protes itu cukup
masuk akal. Aliran listrik tegangan tinggi membuat korbannya mengejan dahsyat
hingga melelehkan busa dari mulut, sekujur tubuh berasap sedangkan bola matanya
pecah dan gilanya itu orang belum mati juga. Coba kalau ada yang bisa
mempertontonkan rekaman itu pada trio bom bali tadi, mereka mau ngomong apa
lagi coba.

 

Ada

beberapa jenis
eksekusi yang kutahu sanggup menuai kematian tanpa bertele-tele. Cara pancung
leher macam guillotine lumayan
efektif. Begitu kepala terlepas dari tubuh seketika itu juga korban langsung
mati. Hukum gantung, asalkan dijatuhkan dalam jarak yang cukup tinggi akan
menghasilkan hentakan yang seketika mematahkan tulang leher. Tidak ada rasa
tercekik maupun kelonjotan sedikitpun dari si korban,benar-benar mati seketika.
Di China sering dipakai cara eksekusi dengan menembak kepala dari belakang. Dan
itupun cukup to the point.

 Tapi kenapa
sih orang semacam Amrozi cs mempermasalahkan prosedur eksekusi. Mereka tahu apa
soal “peri kemanusiaan” mengingat apa yang mereka lakukan pada ratusan korban
tewas dan cacat maupun ribuan orang yang kehilangan nafkahnya karena sejak
peledakan itu bali mendadak sepi wisatawan. Imam Samudra mengaku veteran perang

afghanistan

selama tiga tahun tapi kok sekarang takut ditembak. Semua ini aneh dan
memalukan. Mustinya mereka malu mempermasalahkan hal ini.

Sedangkan dimata masyarakat jepang
klasik, daripada malu lebih baik mati.

 

 

 

Malang

,
23 agustus 2008

Sudahlah, Jangan Memberhalakan Prosedur

August 22nd, 2008 by ajiprasetyo

Seorang kawan menanyakan padaku tentang apa impianku sepuluh
tahun kedepan. Saat itu juga aku tahu dia sedang akan menawarkan sebuah produk
MLM.

 “Bagaimana
kau bisa tahu?” kawanku ini tidak habis pikir. “Karena pertanyaanmu terlalu
prosedural. Tipe pertanyaan yang sangat khas,” jawabku.

 “Memang
begini yang diajarkan dalam sistem kami. Semuanya ditata dalam tahapan yang
sistematis.Termasuk prosedur interaksi dalam upaya merekrut downline.”

 “Ya itu
bagus, sih,” kurasa kawan ini perlu kuajak bertukar ide. “Bukankah lebih bagus
lagi jika kamu mencoba berimprovisasi, mengingat orang yang kau hadapi cukup
beragam tipenya.”

 “Maksudnya?”

 “Andaikan
kamu yang sehari-hari jadi sales ini menawarkan bisnis ini kepada salah satu
kolega kita, taruhlah pak Anhar pemilik Tugu Park Hotel. Dan kau mulai
presentasi dengan pertanyaan tentang apa impian beliau sepuluh tahun kedepan.
Bisa-bisa kamu disuruhnya pulang untuk berkaca.” Sejenak dia tercenung
memikirkan kata-kataku.”Tapi jika aku berimprovisasi,

kan

jadinya nyalahi tatanan?” Rupanya belum
paham juga dia. Akhirnya kutemukan sebuah ide untuk mengilustrasikannya dalam
sebuah cerita.

 

Ada

sebuah kisah tentang
seorang polisi lugu. Suatu kali dipergokinya istrinya habis selingkuh dengan
seorang pria. Setelah berhasil menangkapnya, sang polisi kita ini melakukan
prosedur interogasi kepada tersangka.

Polisi  : Kapan anda mulai melakukan
perselingkuhan dengan istri saya?

Tersangka : Jam satu siang, pak.

Polisi  : Dimana tempat kejadian perkaranya?

Tersangka  : Di kamar anda, pak.

Polisi  : Coba anda ceritakan
kronologinya.

Tersangka  : Mula-mula saya cium belakang telinganya,
lantas saya kecup tengkuknya, selanjutnya turun ke..

 Di
menit-menit berikutnya sang polisi lugu ini baru sadar, meskipun prosedural,
tetap saja itu tadi adalah pertanyaan bodoh.

 

 

Malang

,
22 agustus 2008

Benar Benar Stiker Yang Nggak Berguna !

August 17th, 2008 by ajiprasetyo

Motorku ini sudah hampir setahun ini kupegang. Honda Fit-X warna hitam nopol N6494CI ini masih harus kucicil dua tahun lagi. di slebor belakang kutempeli stiker warna kuning bertuliskan " jangan ditabrak, belum lunas ".

tapi ternyata tulisan stiker itu nggak ada gunanya kecuali jadi bahan ejekan tukang parkir. Sebulan yang lalu aku nyungsep di aspal karena diserempet onta gila.

Tulisan
ini cukup panjang sih, sebagai pelampiasan selama beberapa hari tangan
nggak bisa dipake ngetik. Semoga tidak bosan selama membacanya.

 

 

 

“Owalah mas,kok sampeyan jadi begini..”

 

Itu
yang diucapkan Yuni saat bertemu di parkiran empat hari setelah
kecelakaan yang kualami. Aku tersenyum,membuat wanita itu mengernyitkan
alis menahan ngeri. Bengkak di bibir dan

lima

gigiku yang sudah tidak ada ditempatnya memperkaya display baru wajahku
(dipertegas dengan senyum itu), selain tiga perban yang menutup luka di
jidat, pangkal hidung dan dagu. Jelas sudah wajah itu tidak enak
dipandang terutama oleh orang yang mengenalnya.

 

 

 

 “Santai saja, nduk.Yang penting

kan

masih diberi hidup,” jawabku.Wanita lawan bicaraku ini adalah pelacur
yang biasa mangkal disekitar RS Lavalette dan SMP 5 (yang pernah
kuceritakan dalam blogku sebelumnya).

 

 

 

 “Kudengar kabar sampean ditabrak orang dari cak Brudin dua hari lalu. Maunya pingin menjenguk sampean tapi sungkan.”

 

 

 

 “Sungkan sama siapa.”

 

 

 

 “Ya sama istri sampeyan.”

 

 

 

 “Halah, dulu

kan

kalian sudah kenalan. Buat apa sungkan.”

 

 

 

 “Juga nggak enak sama orang kampung. Pasti ada yang tahu aku ini balon (sebutan untuk pelacur), Lha wong tempat mangkalku nggak jauh dari kampung sampeyan. Ntar sampeyan jadi bahan omongan mereka.”

 

 

 

 “Nduk,”
rada sulit aku tersenyum dengan bibir yang bengkak, ”kalau aku ngerti
cara menjaga gengsi yang baik, nggak mungkin aku ada disini sekarang,
ngobrol enak dengan teman minum kopiku.” Ucapanku belum mampu
membuatnya lebih santai. Dipandanginya wajah penuh perban ini dari atas
kebawah, seakan ingin memastikan anggota tubuhku lainnya masih
utuh.”Sudah mas, bibir masih bengkak gitu jangan dipaksa banyak gerak.”

 

 

 

 “Oke, ayo ngobrol lewat SMS.”

 

 

 

“Halah kumat!”

 

 

 

 Tiga
hari sebelumnya, tepatnya tanggal 12 juli, aku mengajak istri dan
anakku jalan-jalan ke kampusku dulu. Rencananya kami mau makan siang di
kantin tempat kami pertama kali bertemu. Hari itu istriku berulang
tahun. Meskipun saat ini masih terbilang masa susah, kami masih ingin
menciptakan moment istimewa meski tidak harus mewah.

 

 

 

 Dalam
perjalanan menuju ke kampus itulah musibah itu terjadi. Di jalan raya
depan stadion gajayana yang lagi padat-padatnya(waktu itu jam 13 20)
sebuah pengendara sepeda motor berkecepatan tinggi mendahului dari sisi
kanan dengan sangat mepetnya. Pengendara itu mengangkut sebuah kursi
tamu yang diikatkan di jok belakangnya. Kejadiannya begitu cepat saat
kursi itu menyenggol setir motorku dengan kerasnya. Kami pun terhempas
ke aspal. Aku tidak punya cukup waktu untuk melindungi kepalaku.Wajahku
beradu dengan aspal membuat jidat dan dagu robek, gigi rompal tiga
biji, dua lainnya goyang.bingkai kacamata patah meninggalkan robekan di
pangkal hidung. Telapak tangan kanan mengelupas di dua tempat.
Pergelangan tangan kanan dan jari jemarinya sulit digerakkan. Lutut
kiri pun tidak luput dari cidera.

 

 

 

 Kudengar
jerit kesakitan anakku, jeritan yang mampu membuat tubuh remuk ini
serta merta berdiri. Edwin, anakku yang baru berumur tujuh tahun-yang
untungnya selama diatas motor duduk ditengah, terlihat tengkurap di
aspal tidak jauh dari ibunya. Menangisi telapak dan beberapa jari
tangan kirinya yang terkelupas. Orang-orang pun berkerumun menolong
istri dan anakku. Aku sendiri sibuk menyibak kerumunan untuk mencari
penabrak kami.

 

 

 

 Penabrak
kami ternyata seorang pria keturunan arab berusia enampuluhan. Seorang
tukang parkir setempat berhasil menghentikannya dan merebut kunci
motornya. Didepan orang-orang dia ngotot tidak bersalah bahkan balik
menuding bahwa kamilah yang menyerempetnya. Alibi tidak logis itu
justru membuat orang-orang habis kesabaran. Istriku sangat emosional.
Sambil memangku Edwin yang tak henti-hentinya menangis, istriku
mengumpati habis pria tua itu.”Sudahlah jeng,
tenanglah. Orang-orang disini sudah pada membela kita,” kucoba
kutenangkan istriku sambil kuawasi orang-orang yang gelagatnya sudah
mau main kasar pada pria itu. Tapi inilah yang aku nggak habis
mengerti.Pria tua itu (belakangan diketahui bernama Hasan Ahmad
Assegaf, tinggal di jalan Arif Rahman Hakim) meskipun dalam situasi
yang rawan seperti itu masih gigih mempertahankan pendapatnya bahwa dia
tidak bersalah,bahwa kamilah yang menabrak motornya. Orang-orang yang
melihat sendiri kejadiannya mulai naik pitam. Didukung dengan
pemandangan anakku yang menangisi lukanya,istriku yang histeris,dan
wajahku yang penuh darah.

 

 

 

 Kurangkul
pria itu menjauhi motornya sambil berbisik,”sudahlah pak, jangan
mempersulit diri sampeyan sendiri.” Kuberi tanda orang-orang untuk
mengurungkan aksinya. Tapi kata-kataku tadi percuma saja. Sekali ngotot
tetap ngotot pendeknya.

 

 

 

 Untung polisi kebetulan lewat. Kami segera diantar ke UGD sedangkan kedua kendaraan diangkut ke mapolresta.

 

 

 

Singkat
cerita kami dirawat di UGD dan untungnya tidak perlu menginap. Edwin
menjalani perawatan paling lama karena rewel. Baginya luka yang
dideritanya ini adalah yang paling parah dalam sejarah hidupnya. Kami
hampir pulang saat pak Hasan,orang yang menabrak kami tadi datang
ditemani anak lelakinya yang kutaksir berumur duapuluhan. Berbeda
dengan bapaknya, Hamid(nama si anak itu) terlihat lebih necis. Ternyata
dia pemilik salah satu konter HP di

malang

plasa lantai tiga.

 

 

 

Mewakili
sang bapak, Hamid menjanjikan segalanya beres asalkan aku mau diajak
damai. Tawaran tersebut kusetujui, meskipun agak sumpek juga melihat

gaya

bicara anak muda itu yang terkesan arogan.

 

 

 

Tapi
Hamid ini memang kelihatan cukup mapan dibanding ayahnya yang cuma
jualan mebel. Setidaknya itu terlihat dari mobil mahalnya yang dipakai
untuk mengantarku ke mapolresta. Setibanya disana kami menandatangani

surat

pernyataan damai yang isinya pihak pak Hasan sanggup membantu biaya
pengobatan hingga tuntas serta perbaikan atas kerusakan yang
diakibatkan kecelakaan tersebut. Dengan ditandatanganinya

surat

tersebut maka motor pak Hasan bisa keluar dari mapolresta.

 

 

 

Namun
rupanya janji itu tidak terpenuhi. Selang beberapa hari kutelepon
mereka untuk menanyakan tentang penebusan resep yang nilainya dua kali
lipat biaya UGD serta biaya pengadaan kacamata dan pencabutan dua gigi
yang rusak (sekaligus kutanyakan mengenai pemasangan gigi baru,yang
dengar-dengar cukup mahal untuk ukuran kantongku). Kujelaskan pula pada
mereka bahwa motorku tidak mengalami kerusakan berarti sehingga biaya
perbaikan biarlah kutanggung sendiri. Namun jawaban mereka cukup
mencengangkan. Menurutnya cukup sudah mereka mengganti biaya UGD
kemarin dan memintaku untuk memahami bahwa ini musibah yang tidak ada
seorangpun yang menginginkannya dengan sengaja. Bahkan pak Hasan
memberi sedikit ‘dakwah’ padaku dengan mengambil sekelumit ayat Al
Quran yang intinya kita harus bisa menerima cobaan dan musibah dengan
lapang dada.

 

 

 

Benar-benar melukai akal sehat.

 

 

 

Setelah
memberi kesempatan dia menyelesaikan dakwahnya, aku menutup pembicaraan
telepon kami dengan sebuah pesan,”saya tidak mengajak bicara anda
dengan dasar logika apapun kecuali dengan hati,
pak. Sebaiknya sebagai pria terhormat anda menepati janji yang anda
tandatangani sendiri didepan polisi. Dan berapapun yang anda berikan
akan kami terima asalkan sama-sama ikhlas. Saya bisa saja mencabut
pernyataan damai dan menempuh jalur hukum untuk mendapat pembiayaan
yang pantas dan tuntas, namun jika uang dari anda tidak disertai
keikhlasan maka tidak akan menjadi barokah bagi saya.”

 

 

 

Beberapa
menit kemudian pak Hasan sudah tiba di rumahku dan memberi uang seratus
ribu rupiah. Kutatap matanya dalam-dalam, “saya terima bantuan dari
anda dengan ikhlas. Dari pihak kami menganggap urusan ini telah
selesai.” Dari tempatnya duduk istriku memandangku dengan menyimpan
perasaan tidak terima dibenaknya. Tapi dia kenal betul suaminya,
pantang mengubah keputusan dan tidak suka berdebat didepan orang. Maka
dia pun hanya bisa diam.

 

 

 

Beberapa
kawan yang datang menjenguk rata-rata menyayangkan keputusanku. Masuk
akal jika sikap yang kuambil didasari karena penabrakku adalah orang
yang kurang mampu dan menyesali tindakannya. Sedangkan sosok Hasan
adalah kebalikan dari kedua hal tadi. Seorang kawan bahkan ngotot
menawarkan sebuah cara ‘kuno’.

 

 

 

 “Kita targetkan anaknya yang bernama Hamid itu saja. Sampeyan pilih mana,mobil bagusnya yang rusak atau tempat usahanya yang morat-marit.
Dua-duanya pun boleh. Aku ada sedikitnya tiga puluh orang yang siap
jalan, apalagi kalau tahu yang kesusahan itu sampeyan.” Sehari
sebelumnya seorang kawan aktivis dari distrik sukun menawarkan hal
serupa. Sebagai penggalang

massa

wilayah sukun untuk kesuksesan salah satu peserta pilkada, tidak sulit
baginya saat itu untuk mengerahkan segelintir orang agar berbuat ‘lucu’.

 

 

 

“Sadar
nggak sih kalau sampeyan semua itu lucu banget. Kenapa harus bawa-bawa
orang banyak untuk bikin onar cuma karena masalah beginian. Padahal
Cuma gigiku yang hilang. Coba kalau lainnya, taruhlah kaki atau mata.
Apa sampeyan mau bawa seluruh orang kelurahan sukun dan klaseman untuk khilaf
berjamaah? Nggak cukup ruang tahanan di mapolres buat nampung kalian. Salah-salah sebagian dititipkan di seberang polres (seberang mapolresta adalah RSUD Saiful Anwar).” Dan akhirnya kami pun ngakak berbarengan. Dan lagi-lagi
bibirku perih dipakai saat ketawa.

 

 

 

Kembali
ke tempat aku ngobrol dengan Yuni. Masih saja dia menampakkan
kejengkelannya. “Ya begitu itu orang arab mas, salah atau benar tetep
ngotot saja. Pelit jadi wajib hukumnya, nggak lihat-lihat dulu ini
urusan nyawa apa urusan upil. Tanya saja para tukang becak yang mangkal
di sekitar kauman. Mereka paling males kalau calon penumpangnya itu
orang arab. Maunya jauh dekat dua ribu perak. Disamakan dengan mikrolet
saja. Itu becak dipancal pake betis, bukannya pake diesel! Pakai otak
sedikit saja apa susahnya sih?” Tawaku semakin menjadi meski mulut
masih terasa perih. Kupikir istriku sudah cukup ‘gila’ saat menyumpahi
pak Hasan di lokasi kecelakaan. Ternyata belum bisa mengalahkan Yuni
dalam hal ini. Jadi ingat kata almarhum bapakku, bahwa wanita yang
sedang mengomel ibarat lokomotif yang meluncur. Menyelanya berarti
bunuh diri.

 

 

 

“Lagian sampeyan juga keliru mas. Kok gampang banget dibujuk pake trik kacangan
seperti itu. Apa sampeyan sama sekali nggak curiga bakal dicurangi? Aku
saja bisa lebih waspada daripada sampeyan. Setiap ada calon pelanggan
yang suka sesumbar biasanya kutolak.”

 

 

 

“Lho, kok bisa gitu ?”

 

 

 

“Iya,
mas. Kalau ada yang sampai bilang, sudah deh pasti kubayar. Maunya
berapa sih.., biasanya orang yang sesumbar macam gini ujung-ujungnya
ruwet,mas. Habis meniduriku terus kabur nggak mbayar babar blas! Nggak sekali dua kali kejadian macam gitu,mas. Makanya aku nggak ngeh sama calon konsumen bermulut besar!”

 

 

 

“Tapi orang-orang yang kutemui selama ini nggak seperti itu, nduk. Rata-rata mereka kalau sumbar itu ya sumbut (sumbut:konsekuen,sesuai kapasitas).”

 

 

 

“Nah, ketahuan lugunya

kan

?
Makanya jangan cuma mengamati orang dari kalangan sampeyan saja mas,
dunia ini luas dan ternyata aku lebih banyak kenal tipe orang daripada
sampeyan.”

 

 

 

Seketika
itu juga aku merasa digemplang. Pelacur ini merasa lebih paham manusia
daripada aku dan nalar logika tidak sanggup membantah pernyataan itu.

 

 

 

”Boleh lah, nduk,” aku Cuma bisa tersenyum,”kali ini kamu benar.”

 

 

 

Pagi
kemarin aku sudah mulai mengajar lagi di kelas seni SD Sabilillah.
Tampang baruku menjadi tontonan lucu sekaligus menuai iba diantara
guru-guru disana. Selama didalam kelas kembali ingat tentang diskusi
antara aku dan istriku tentang celetukan salah seorang saudara. Menurut
saudara kami itu, kecelakaan ini adalah cara Tuhan memperingatkan
umatnya atas tugas atau kewajiban sebagai umat kepada Tuhannya yang
belum dilaksanakan. Kujawab padanya bahwa aku punya interprestasi
sendiri atas musibah kemarin. Jika setiap musibah melulu dianggap
peringatan atau katakanlah hukuman Tuhan, Lantas apakah kita musti
yakin bahwa seluruh penduduk aceh itu pada nggak bener karena tsunami
ditakdirkan melanda daratan itu? Dan apakah di jawa timur khususnya

kota

malang

dipenuhi orang suci sehingga sampai detik ini tsunami atau bencana
lainnya belum juga ditakdirkan terjadi disini? Tomy Suharto belum
pernah keserempet motor sampai gigi rompal. Apa karena dia pelaku
syariat islam yang sempurna sehingga tidak perlu mendapat SP dari-Nya?

 

 

 

Kepada
istriku kukatakan, musibah itu memberi pelajaran banyak kepada kami.
Tentang bagaimana harus tetap tangguh disaat celaka dan tetap berpikir
sehat dikala panik. Boleh saja jengkel sama wak Hasan
itu, tapi mustinya bersyukur juga. Orang sebrengsek itu hanya mampir
sekejap dalam kehidupan kami. Bayangkan orang macam itu ditakdirkan
menjadi bagian dari keluarga kita, atau terdapat pada jajaran kawan dan
sahabat. Hidup yang cuma sekali ini bisa jadi sangat menyiksa. Jadi
mari buang jauh-jauh onta itu dalam ingatan kita, dan  kita lanjutkan menikmati hidup seperti kemarin-kemarin.

 

 

 

Kembali
ke ruang kelas seni yang kupegang. Anak-anak sedang asyik menggambari
kertasnya. Aku keluar kelas untuk merokok saat empat gadis cilik
mendatangiku. “Pak Aji, mau tanya boleh?”

 

 

 

“Boleh saja. Kenapa, sayang?” awalnya kupikir mereka akan bertanya seputar tugas menggambar mereka.

 

 

 

“Tapi
janji ya nggak boleh marah,” ucap gadis yang paling berani ini mewakili
kawan-kawannya. Kulihat para siswi kelas dua SD itu saling beradu
sikut. Perasaanku jadi nggak enak.

 

 

 

“Baik, bapak janji.”

 

 

 

“Anu,..ada
apa dengan giginya pak Aji?” dua bocah yang sedari tadi berada
dibelakang mulai berlindung dipunggung kawannya. Sudah kuduga
pertanyaan ini bakal muncul dari bibir bocah-bocah polos itu.

 

 

 

 “Kalian
benar-benar ingin tahu?” mereka berempat serentak mengangguk.”Baiklah,”
aku menarik nafas panjang.”Pak Aji baru saja mengikuti kegiatan
sosial.”

 

 

 

Sungguh ide itu muncul begitu saja membuat mereka semakin penasaran,”kegiatan sosial apa, pak?”

 

 

 

“Mmm.. pernah dengar tentang donor gigi?”

 

 

 

Dan mereka pun terperangah karena takjub.

Interview with the ‘balon’

June 8th, 2008 by ajiprasetyo

Jam 23.00 sepulang kerja,aku mampir
ke ruko tempat warnet langgananku.Kali ini tidak berniat browsing tapi sekedar
beli rokok.Karena sangat tidak manusiawi jika malam ini aku lembur dirumah
bikin storyboard “setan kerambit”
tanpa ada cukup amunisi kretek favorit di atas meja.Kan kasihan asbaknya
nganggur.

Namanya juga langganan,aku akrab
dengan banyak orang disana mulai dari penjaga warnet,satpam ruko maupun tukang
parkirnya.Kami akrab dengan alasan yang sangat jelas,yaitu karena sering ketemu
dan saling bertegur sapa.Asal tahu saja,saking sok akrabnya,akulah satu-satunya
pengunjung warnet yang dibebaskan dari biaya parkir.

Tapi ada seseorang yang biarpun
kami pasti ketemu setiap aku kesana tapi tidak juga membuat kami terlihat
akrab.Seseorang itu-sebut saja bukan
Bunga (karena sudah terlalu simbolis).Yang jelas orang-orang mengenalnya dengan
nama Yuni.Seorang wanita 24 tahun,pelacur jalanan yang biasa mangkal disekitar
situ.

Kami biasa saling berseloroh
seperlunya.Kadang-kadang dia sudah duduk diatas motorku saat aku keluar dari
warnet,sembari menagih biaya parkir yang menurut perhitungannya sebesar 50
ribu.Meskipun kita sering juga bercanda asal njeplak,tetap saja kami tidak
akrab-akrab amat.Dia pun memberlakukan “keramahan” serupa kepada setiap pria
disekitarnya.

Namun ada sedikit beda dengan yang
terjadi semalam.Setelah beli rokok aku tidak langsung pulang melainkan ngobrol
ngalor ngidul dulu dengan beberapa satpam ruko.Sampai akhirnya wanita itu
datang menghampiri kami.Dia minta tolong untuk diantar mencari roti bakar.

“Lho,kok cari roti bakar jam
segini,bukannya sudah pada tutup?”

“Iya,tadi kelupaan saking ada
pelanggan minta servisnya kelamaan.”

“Lagian kenapa musti roti
bakar?cari yang gampang,lah.Itu penjual nasi goreng masih banyak yang mangkal.”

“Ini buat anakku dirumah.Dia maunya
roti bakar,nggak mau yang lain.”

Masih saja terpikir olehku untuk
mendebatnya,”kalaupun sampean nanti pulang toh anak sampean sudah tidur,

kan

?”

“Iya,tapi besok paginya dia pasti
nagih buat sangu ke sekolah.”

“Kalau nggak ada?”

“Pasti nangis.Dan kalau sudah
begitu bisa membayangkan nggak mana yang lebih sulit,cari roti bakar malam ini
atau besok pagi?”

Kupikir ada benarnya juga.”Dimana
kira-kira warung roti bakar yang masih buka dekat sini?”

“Didepan stasiun,atau mungkin
disekitar pasar klojen.”

“Nggak jauh sih,ayo deh
kuantar,”kustarter motorku dan kami pun meluncur.Tiba didepan stasiun ternyata
warung yang dimaksud sudah tutup.Dipasar klojen warungnya masih buka tapi roti
bakarnya habis.

”Berarti sampean belum
beruntung,mbak.Kalau boleh saran,kasih saja si kecil uang saku yang lebih
banyak dari biasanya,biar dia puas-puaskan buat beli jajan disekolahnya.”

Wanita itu tampak murung.Seperti
menyesali kesembronoannya hari ini.Roti bakar adalah makanan kesukaan anaknya
untuk dimakan pada jam istirahat sekolah.Berarti tiap malam wanita ini selalu
membeli roti bakar untuk dibawa pulang.Dan begitu malam ini dia terlambat
membelinya,membuatnya merasa sangat berdosa kepada si anak.

Tiba-tiba saja terlintas ide di benakku.”Aku
tahu dimana kita bisa mendapatkan roti bakar malam ini,” motor kupacu ke arah
sawojajar.Disana ada sebuah kafe buka 24 jam dengan menu beragam.Beruntung,roti
bakar termasuk dalam menu disana.Sepuluh menit kemudian kami sudah keluar dari kafe itu dan pulang
membawa sebungkus roti bakar.

Setibanya kami di parkiran ruko dia
tidak langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.Kami justru asyik ngobrol
di teras warnet sambil menikmati kopi panas.Dia pun bercerita tentang
pengalaman hidupnya.

Menikah diumur 13 tahun,suaminya meninggal
dalam sebuah kecelakaan.Waktu itu dia mengandung tiga bulan.Setelah anaknya
berumur setahun dia menikah lagi dengan seorang duda.Dua tahun pernikahan
berjalan dia sadar suami barunya ini suka main tangan.

Karena himpitan ekonomi Yuni
mengiyakan saja saat suaminya menawarkan pekerjaan untuknya,menjadi pembantu
rumah tangga di surabaya.Yuni diantar suaminya ke surabaya.Di suatu tempat Yuni
dititipkan pada seorang sopir taksi yang katanya akan mengantarnya ke rumah
calon majikan.Tapi ternyata taksi itu membawanya ke gang dolly.Yuni baru saja
dijual suaminya.

Beberapa hari disana Yuni banyak
menerima siksaan dari germonya karena tidak mau melayani tamu.Seluruh tubuhnya
babak belur.Tak tahan akan siksaan,Dia akhirnya mengalah.

Pelanggan berikutnya adalah pria
tinggi besar yang membuatnya keder.Jika dia menolak lagi,bisa-bisa pelanggan
ini akan menghajarnya sendiri sebelum sang germo memberi siksaan rutin.Namun
yang terjadi diluar dugaan.Begitu Yuni membuka pakaian,bilur-bilur bekas
siksaan terlihat jelas disekujur tubuhnya membuat si tamu justru kehilangan mood-nya.Satu
jam didalam bilik itu Yuni di-interogasi oleh tamunya perihal penyebab lebam
ditubuhnya.

Esok paginya tamu itu datang
lagi.Kali ini untuk menebus Yuni dari germonya dan mengantarnya pulang.

Yuni disambut oleh keluarganya.Pria
yang mengantarnya(yang belakangan diketahui sebagai anggota marinir),menjelaskan
semua permasalahan.Seluruh keluarga shock,sang kakek meninggal keesokan harinya
karena serangan jantung.Suami Yuni yang saat itu sudah kabur ke bali akhirnya
berhasil ditangkap dan sampai detik ini masih mendekam di rutan
lowokwaru.Kematian sang kakek dan merebaknya aib keluarga menjadi beban bagi
kehidupan pribadi Yuni setelahnya.

 

Menuju babak berikutnya,kehidupan si janda
muda

 

Nah,sekarang bagaimana perjalanan
hidup Yuni kemudian.Beberapa lama setelah menjalani hidup menjanda untuk kedua
kali,datang lagi seorang pria dalam kehidupannya.Sebut saja namanya Udin.Pria
ini masih terhitung tetangga desa dengan Yuni.Mereka cukup dekat dan akhirnya
menjalin hubungan serius selama beberapa bulan.Besar harapan Yuni kepada pria
ini yang mungkin dapat memberinya harapan akan kehidupan baru yang lebih
baik.Sayangnya tentangan yang hebat muncul dari keluarga Udin.Mereka tidak rela
melihat pria muda pekerja keras ini harus menikah dengan janda beranak satu
dengan masa lalu yang kurang mulus.Alhasil,hubungan mereka kandas.Kisah cinta
yang gagal itu sempat menjadi topik hangat dikampung mereka selama
berbulan-bulan.Tidak kuat menghadapi itu,Yuni memutuskan minggat meninggalkan
anak dan keluarganya.

Dengan bekal pas-pasan Yuni berniat
untuk pergi ke rumah saudaranya di jakarta.Namun apes bagi wanita lugu
ini,entah kenapa bekal yang dibawanya tidak cukup membawanya terlalu
jauh.perjalanannya terhenti di

semarang

.

Yuni tidak pernah bepergian jauh
sendirian sebelumnya.Dia tidak tahu harus kemana dan harus melakukan apa.Saat
menangis meratapi nasib,datang seorang wanita menghampirinya.Setelah mengetahui
yang terjadi,Sherly,si wanita ini,didorong rasa iba mengajak Yuni singgah di
kontrakannya.Disanalah akhirnya Yuni tinggal untuk waktu yang cukup lama.Sherly
yang selama ini tinggal sendiri dan merasa kesepian akhirnya menemukan teman
seatap.

 

Memulai karir sebagai PSK

 

Hubungan dua wanita ini semakin
dekat seperti kakak-adik.Sherly adalah seorang pelacur jalanan.Meskipun begitu
dia tidak pernah mengajak Yuni melakukan pekerjaan serupa.Tapi toh Yuni
akhirnya tergoda untuk menerjuninya.Dia melihat begitu mudahnya Sherly mendapatkan
uang dan hidup foya-foya.Akhirnya,dengan bimbingan Sherly dimulailah karir Yuni
sebagai pelacur.

Baru beberapa bulan Yuni menikmati
profesinya,Sherly dengan sangat terpaksa mengajaknya berpisah.Rupanya sang
pelanggan tetap Sherly selama ini mengajaknya untuk menikah.Sudah disiapkan
sebuah rumah sederhana untuk mereka tempati setelah menikah,dan praktis Sherly
tidak bisa membawa Yuni untuk tinggal bersama mereka.Ditengah kebingungan
karena kehilangan pengayomnya,Yuni memutuskan untuk kembali ke

malang

.

Tiba di

kota

kelahiran,Yuni tidak pulang ke rumahnya melainkan menawarkan diri ke sebuah
lokalisasi.Dia kirim

surat

kepada keluarganya dan mengaku bekerja di sebuah tempat biliar di surabaya.Dari
lokalisasi itu yuni rutin mengirim uang untuk anaknya.

Setahun yang lalu lokalisasi itu
ditutup paksa oleh masyarakat,memaksa Yuni untuk pulang kembali ke rumah orang
tuanya dan sekaligus berkumpul kembali dengan anaknya.Sekarang dia memilih
tetap melacur di jalanan.Lokasi mangkalnya antara tugu SMPN 5 sampai di depan
RS Lavalette.Selama “meniti karir” disana dia menjalin hubungan istimewa dengan
salah satu pelanggan tetapnya-yang ironisnya,adalah seorang anggota satpol
PP.Setiap akan ada razia sang pacar selalu memberinya peringatan agar libur
dulu sementara.Begitulah,Yuni tetap nyaman dengan profesi itu sampai sekarang.

 

Akhir dari cerita

 

Waktu menunjukkan pukul 02.45 saat
Yuni mengakhiri ceritanya.Sudah waktunya dia untuk pulang.Setelah mengucapkan
terima kasih atas roti bakarnya,dia beranjak pergi dari pelataran ruko.Dari
kejauhan kulihat sebuah mobil pickup menepi didekatnya.Terdengar pembicaraan
antara Yuni dan si pengemudi.Kalimat mereka tidak terdengar jelas,kecuali
ucapan terakhir Yuni sebelum masuk kedalam mobil,”tapi janji lho,pulangkan aku
sebelum jam

lima

ya..” Tinggal aku seorang diri didekat motorku.Tiga orang Satpam tampak
mendengkur dengan pulas didalam posnya.Sudah waktunya untuk meluncur pulang.

Sesampai dirumah kuraih ponselku
untuk mengirim SMS ke beberapa teman.Ada yang kutanyai mengenai seputar hukum
pidana,yaitu pantaskah seorang suami yang suka main tangan dan menjual istrinya
ke pelacuran divonis hingga 15 tahun penjara.jawaban yang kuterima siangnya ;

”kayaknya nggak lah Ji,vonis 15
tahun biasanya untuk kasus berat semacam pembunuhan.”

Kukirim juga SMS ke kawanku yang
lain.Isinya sebuah pertanyaan,benarkah tarif short time pelacur jalanan di

kota

ini bisa mencapai
300an ribu rupiah untuk short time.Untuk yang ini jawaban langsung kuterima dua
menit kemudian yang isinya ;

“ Dengan duit segitu aku bisa diservis
ayam kampus atau anak SMU full time,ngapain lagi pake pelacur pinggir
jalan,short time,lagi..”

Dari beberapa kejanggalan yang
kutemukan,bisa jadi cerita Yuni tidak sepenuhnya benar.Mungkin dalam beberapa
hal,atau bahkan di banyak hal mungkin dia membual.Atau seluruh ceritanya adalah
bualan.Siapa yang tahu?Buatku,dia boleh membual sebanyak apapun dalam ceritanya
semalam.Asal untuk yang urusan roti bakar itu dia jujur,buatku sudah cukup.

Tapi, bukankah cerita itu memukau
sekali? persetan dengan berapa persen kebenaran yang ada didalamnya.

 

 

 

Malang

,5 juni 2006

pertama kalinya aku ketawa ngakak saat nonton film warkop

May 27th, 2008 by ajiprasetyo

waktu itu ceritanya trio warkopkesulitan uang dan memutuskan mencari pekerjaan.sayangnya pekerjaan yang ada hanya untuk wanita(yang ini sangat realistis,terutama sekarang).
maka dono kasino dan indro berdandan perempuan dan nekad melamar pekerjaan itu.
bagian yang aku nggak kuat ada disini,saat mereka bertiga diwawancarai oleh si bos besar.masing2 ditanya hal sepele,yaitu hobi.
masing2 menjawab.tiba giliran indro,dia menjawab dengan sangat genit,"hobi saya adalah sepak takrauw dan nolak hujan."

sudah,gak kuat aku…

pensil ilang langsung beli lagi.tapi kalau ponsel ilang,kiamat lah adanya.

May 18th, 2008 by ajiprasetyo

benda yang menjadi partner terbaikku selama ini barusan ilang.kejadiannya semalam.soal ilang dimana nggak usah dibahas,bikin sakit ati.
soal kenapa kusebut barang ini partner terbaik,ada alasannya.
untuk pertama kalinya aku punya ponsel yang ada fasilitas kamera-biar pixelnya gak bagus2 amat.dan untuk beli barang itu biar bekas juga aku musti nabung berbulan2.dan seperti yang kubayangkan sebelumnya,barang ini berjasa sangat besar bagi penggambar seperti aku.
kamera kecil dalam ponsel itu kupake untuk motret lokasi atau properti menarik yang kubutuhkan untuk rujukan bikin komik.
semisal,’dia’ berjasa besar saat kupake motret beberapa profil senjata di museum buat bikin komik "untuk menik".padahal aturannya,masuk museum nggak boleh bawa kamera.cari gambar bedhil di internet sih gampang dan pasti lebih detil.tapi gimana memastikan tipe2 senapan yang dipake tentara pelajar kalo nggak masuk museumnya langsung?
jika ada gerakan tubuh yang rada sulit untuk digambar (paling sering dalam penggarapan "setan kerambit" ) maka aku mengandalkan kamera ponsel itu untuk memotret model yang berpose sedemikian rupa.model itu bisa orang lain,bisa aku sendiri,bahkan bisa berupa adegan dalam film yang kupotret langsung dari layar teve. bayangkan kalo musti nggambar pose kuda yang jatuh terjungkir.jelas aku butuh ngambil dari adegan film.mau ngarang sendiri?lha wong bikin gambar kuda berdiri tenang aja belum hapal anatominya,kok mau yang terjungkir..
belum lagi masalah hilangnya nomor telepon kawan2 dan daftar agenda yang kusimpan di draft( jadi buat teman2 seperjuangan,tolong kirim nomor kalian ya,bisa ke fs ini atau smskan ke nomorku yang lain 0341-9952444 )
buat orang yang tidak punya komputer,ponsel macam ini menjadi satu2nya penyimpan data penting(termasuk clipnya miyabi).begitu benda seupil ini raib,kiamat deh rasanya..
entahlah,padahal cuma kehilangan ponsel.aku sedih sekali.sepertinya hilangnya si soni bin erikson ini termasuk salah satu bencana terbesar yang kualami dalam enam tahun terakhir.

begitulah,sekarang aku sedang menjalani masa berkabung,
..dan menabung.

maaf jika kelamaan nggak muncul.sudah kangen kan?

May 3rd, 2008 by ajiprasetyo

lama sudah aku nggak ngurusi FS.sepulang dari jakarta jadi keseringan ngurusi multiply.maklum,workshop bulan lalu memberi banyak pengalaman berharga.bertemu dengankawan2 sesama komikus(eh,aku ini komikus kah?),bertemu dengan kang Masagung,sahabat lekat di FS tapi baru bertatap muka kemaren(internet itu hebat ya,bahkan ada yang nemu jodoh lewat YM,tapi tetep aja selingkuhannya dapat teman sekantor.nggak jauh2 amat kok).Di klewang.multiply.com kupajang cergam,kartun dan komik buatanku,bahkan rekaman aku main biola yang direkam dari HP teman(..maksa,ya?).
Tulisan ini juga merupakan undangan buat kawan2 di FS untuk mengunjungi MPku diatas.silakan lihat karya2ku sepuasnya.mau di-print boleh,mau disebarkan boleh,aku nggak akan minta royalti,bagiku,ngetop saja sudah cukup.Monsieur_heuetaji_menerima_kenang2an